Setiap saya terbangun dari mimpi tentang seorang adik yang telah pergi,saya merasa masih bermimpi bahkan saat saya sudah benar-benar terbangun.Ini sudah hampir 2 tahun sejak kepergiannya tetapi tetap saja saya masih merasa ini semua hanya mimpi dan suatu saat nanti saya akan terbangun dan mendapati diri saya sedang berada di rumah saya yang dulu,dimana ada 5 orang penghuninya saya,babang,dede,ayah dan bunda,dalam 1 kamar,yang nyaman.Tidak pernah terbayangkan oleh saya bahwa akan secepat ini saya merasakan kehilangan karena orang yang saya cintai dan dekat dengan saya,adik saya sendiri, meninggal dunia.Baru kali ini saya bisa menulis bahwa adik saya benar-benar meninggal dunia semenjak kepergiannya.Bisa dibilang saya belum bisa sepenuhnya menerima kepergiannya,saya merasa dia masih perlu ada di sini,di dalam keluarga ini,masih banyak yang bisa dia raih dalam hidupnya,baik dalam pendidikan,pekerjaan,percintaan,hubungan sosial,semuanya,saya merasa dia masih berhak mendapatkan semuanya,tetapi ya siapa saya?Bisa menentukan siapa yang masih berhak hidup di dunia ini,siapa yang sudah tidak berhak,karena jika saya memiliki kemampuan untuk menentukan itu tentu akan sangat subjektif sekali.Sedih rasanya mengingat bahwa saya pernah sangat membencinya dan berkata dalam hati,biar Tuhan yang membalas,atau biar nanti kamu rasakan sendiri akibatnya dan itu membuat saya merasa sangat bersalah,seharusnya saya mendoakannya bukannya menjatuhkannya terus menerus.Saya bukan orang yang sempurna,saya yang waktu itu sama sekali belum percaya akan kekuatan dari sebuah kata-kata, dan sekarang saya percaya.Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya sekarang,seperti “sedang apa kamu sekarang?” , “baikbaik kah kamu di sana?” , “seperti apa rasanya meninggal bang?” , “apa kamu ketemu sama kakek?” , “apa kamu masih bisa inget aku?kangen aku ngga sih bang?”.Pertanyaan-pertanyaan simple,yang tidak akan saya temukan jawabannya sampai saya bertemu dengannya.Setiap saya pejamkan mata,bayangan saya melambung,mengingat waktu sekitar 12 tahun yang lalu,saya mungkin masih sekolah dasar dan dia taman kanak-kanak,kami pergi sekolah bersama,pulang bersama,makan bersama,semua dilakukan bersama,maklum usia kami hanya terpaut 1 tahun,lalu dia pun masuk sekolah dasar. Saya ingat sebuah cerita,saya waktu itu kelas 2 SD,dan dia kelas 1 SD,saya sedang bermain kejar-kejaran dengan salah seorang anak laki-laki,entah babang kira anak itu mengganggu saya atau apa,dia langsung mengejar anak laki-laki itu dan mendorongnya,itu hal pertama yang dia lakukan ,yang saya tahu, untuk melindungi saya.Lalu kami pun beranjak dewasa,terlalu banyak cerita,tapi yang saya ingat terlalu banyak pertengkaran,pertengkaran yang sangat hebat.Sangat jarang saya menganggap bahwa diri saya beruntung memiliki adik seperti dia karena seringnya kami bertengkar.Saya akui dari hati saya yang terdalam,saya memang bukan kakak yang baik,saya sangat sadar bahwa saya sangat tidak pantas menulis ini semua,saya terlambat untuk menjaganya,bukankah sudah seharusnya tugas seorang kakak untuk mengalah dan melindungi adiknya?Dia bukan anak yang pintar dan berprestasi di dalam pendidikannya,sewaktu sekolah dasar,dia harus pindah sekolah karena tidak naik untuk ke dua kalinya,lalu dia berhasil melanjutkan sekolahnya di SD Banjarsari,SMPN 44,dan terakhir di SMA di ciwastra entah apa namanya,karena nilainya yang tidak begitu baik untuk masuk SMA favorit,saya tau dia sangat kecewa tetapi dia sama sekali tidak menunjukkannya,dia bilang ke salah seorang temannya bahwa dia sangat kagum atas prestasi saya dan dia bilang”pokonya si kaka mah harus sukses,biarin aja aku jadi tukang bengkel” dan banyak sekali sebenarnya hal-hal yang dia tunjukkan pada saya bahwa dia sangat sangat ingin melindungi saya,sangat ingin dan saya tidak pernah melihat itu.Tulisan saya ini mungkin tidak berbeda jauh dari yang pernah saya lihat sebelumnya,tapi memang ini yang saya rasakan. Banyak hal yang saya kagumi dari dia,keberaniannya,solidaritasnya,kasih sayangnya,kemanusiannya,hubungan sosialnya, semuanya sama sekali bukan hal yang bisa dibilang sebuah prestasi,tetapi buat saya ITU SEMUA benar-benar sebuah prestasi yang jarang bisa saya lihat dari orang lain,dia rela mengorbankan semua yang dia miliki demi hal-hal di atas,saya ulangi, SEMUA YANG DIA MILIKI,ya itulah adik saya,dan saya bangga bahkan sampai saat ini saya masih merasa sangat bangga,saya bisa mempunyai seorang adik yang sangat dikenang di hati semua orang yang mengenalnya.Jujur,jika saya mengingat dia,otomatis saya mengingat saat kepergiannya yang begitu memilukan,tetapi saya tidak ingin menulisnya,karena tidak ada gunanya,hanya menambah deras air mata saya saja.Saya ingat,banyak sekali keluarga,kerabat baik yang dekat maupun yang jauh dari ayah,bunda,saya,dan juga dede,teman-temannya,tukang beca,tukang bengkel,tukang parkir,semua benar-benar datang,untuk melihatnya terakhir kali,dan semuanya menangis,sebegitu berartinya babang untuk mereka.Andai saya bisa menulis surat untuk mu,
“babang,Raja Utama Perkasa Panggabean,adik yang aku sayang,aku kangenin banget,apa kabar kamu?Aku bener-bener gatau kabar kamu sekarang gimana,banyak yang pengen aku ceritain sama kamu bang,atau mungkin kamu udah lihat sendiri?Apa komentar kamu?Maaf,aku belum bisa jadi kaka yang baik sampai kamu pergi,knapa kamu pergi ga bilang-bilang sih bang?kenapa bahkan di hari kamu mau pergi,kita ngga sempet ketemu?sama sekali,dan pas ketemu aku udah ga bisa nanya apa-apa dan kamu juga ga bisa ngomong apa-apa?Kamu kangen aku ngga sih bang?Kamu seneng ngga sih?Doa doa aku disampein ngga sih sama Tuhan?Dia baik engga sih bang?aku kangen”
dan
“Tuhan,apakah engkau menjaga baik-baik adikku di sisimu?Apakah engkau menyampaikan setiap pesanku untuknya di dalam setiap doaku padamu?Jaga dia Tuhan,sampai nanti saatnya kita bertemu kembali,terimakasih Tuhan”
Saya tahu bahwa setiap kejadian ada hikmah yang bisa diambil,jujur,sebenarnya belum sebanding apa yang bisa saya ambil dari semua ini dengan kepergiannya,tapi saya tahu ini semua sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya.Mungkin saya yang belum bisa mengambil semua hikmahnya atau mungkin belum ditunjukkan kepada saya pribadi.Saya masih menulis semua ini dalam tangis,mungkin seiring berjalannya waktu saya akan bisa tersenyum ketika menulis tentang dia,tentang seorang adik,tentang pelindung,penjaga saya yang telah pergi terlebih dahulu,saya masih berharap akan hal itu.
Saya sayang kamu,saya rindu masa-masa dulu..



